IDwebhost.com Trend Hosting Indonesia -> Perayaan akhir tahun 2010 banyak kegiatan yang dilakukan warga.Mulai dari tirakatan pesta kembang api,hingga berlibur ke objek wisata.Namun Pemkab Gunungkidul justru menggelar ruwatan.Seperti apa?
SUASANA malam tahun baru di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Gunungkidul jauh dari hingar bingar lazimnya perayaan pergantian tahun. Ya, sejumlah warga dan pegawai pemkab justru mengikuti acaraRuwat Gunungkidul. Kegiatan melestarikan tradisi ini digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) bekerjasama dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Gunungkidul.
Ki Simun Cermosarjono yang ditunjuk sebagai dalang pagelaran wayang kulit memulai lakon dengan judul Murwakalla.Sebuah lakon wajib untuk berbagai agenda spiritual yang berkaitan dengan ruwatan. Tak ketinggalan, sejumlah sesajen mulai dari enam tambir nasi tumpeng, nasiuduk,ayamkampung,itik, angsa, bunga-bungaan, kelapa gading hingga peralatan dapur disiapkan sebagai sarana ritual ruwatan. Ki Simun terus melakonkan cerita tentang upaya untuk menghindari marabahaya yang datang silih berganti. Seperti prosesi ruwatan pada umumnya,dalam cerita lakon Murwakalla ini juga menceritakan tentang Betarakala yang menjadi simbol kejahatan dan menjadikan marabahaya akan memangsa kedono- kedini (manusia).
Beruntung, dengan kesaktiannya,Betara Guru yang melambangkan sosok sumber kebaikan dan kebenaran berhasil memegang kelemahan Betara Kala dengan kemampuan membaca rajah di tubuhnya. Setelah prosesi wayang selesai digelar, sesaji-sesaji yang telah diberi rajah ditanam di empat sudut pekarangan Bangsal Sewokoprojo. Kemudian agenda dilanjutkan melepas hewan ternak untuk diperebutkan warga yang menonton. Hal ini dimaksudkan sebagai simbol membuang sukertoatau melepas nasib sial yang membelenggu wilayah Gunungkidul. Ketua Pepadi Gunungkiaul Heri Legowo mengungkapkan, pihaknya sebagai penerus dalang berharap masyarakat tidak langsung mengaitkan agenda ini dengan kemusrikan atau syirik.Namun hal ini merupakan bagian dari budaya adiluhung yang perlu untuk dilestarikan. ”Kita bisa belajar dari cerita cerita wayang yang ada ini sehingga menjadi pegangan dalam tingkah laku dalam kehidupan,” katanya.
Selain ruwatan di malam hari, Pepadi juga menampilkan tiga dalang sekaligus untuk menyambut tahun baru 2011.”Jadi memang ada empat dalang yang tampil.Setelah di ruwat, para dalang pun unjuk kebolehan sambil menyongsong 2011,”pungkas Hery. Dalam pementasan wayang kulit tersebut,hampir semua pejabat hadir,termasuk Plt Bupati Gunungkidul Badingah. ”Ini agenda kerjasama. Dengan didasari banyaknya bencana termasuk meninggalnya Bupati Gunungkidul Sumpeno Putro yang bertempat tinggal di kompleks bangsal ini,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Gunungkidul CB Supriyanto.
Harga Tiket Peswat Untuk Lebaran Naik 200 Persen
7 tahun yang lalu
0 komentar:
Posting Komentar